Powered By Blogger

DicAri

Kamis, 17 Desember 2009

SEJARAH BAHASA MESIR

SEJARAH BAHASA MESIR KUNO

Pada awalnya Bahasa Mesir adalah bahasa Afro-Asia yang sangat erat hubungannya dengan bahasa Berber, bahasa Semit, dan bahasa Beja. Bahasa ini bertahan sampai abad ke-5 Masehi dalam bentuk bahasa Demotik dan sampai abad ke-17 Masehi dalam bentuk bahasa Koptik. Catatan tertulis dengan bahasa Mesir dari tahun 3200 SM, membuatnya menjadi bahasa tertua yang ditulis.

Para ahli telah memperiodisasi bahasa Mesir dalam enam pembagian,yaitu:
• Bahasa Mesir Kuno (sebelum 2600 SM)
• Bahasa Mesir Lama (2600 SM - 2000 SM)
• Bahasa Mesir Pertengahan (2000 SM - 1300 SM)
• Bahasa Mesir Akhir (1300 SM - 700 SM)
• Bahasa Mesir Demotik (abad ke-7 SM - abad ke-5 M)
• Bahasa Koptik (abad ke-4 M - abad ke-17 M)

Periodisasi mengenai pembagian bahasa ini telah memberi gambaran tentang asal mula bahasa Mesir itu munsul.Tetapi banyak hal yang sebenarnya masih menjadi teka teki dalam kasus asal mula dari bahasa Mesir Kuno ini. Pada salah satunya dikatakan bahasa Mesir Kuno terbuat dari sebuah surat perjanjian yang disebut dengan Batu Rosetta. Batu ini ditulis dengan bahasa Yunani Kuno, bahasa hieroglif, dan demotik. Bahasa demotik sendiri memiliki bentuk yang lebih sederhana dari hierogrif. Setelah Kerajaan Mesir Kuno runtuh, terdapat seorang Penjelajah yang menganggap bahwa bahasa Mesir ini merupakan suatu "teka-teki" yang sulit dipecahkan. Berabad-abad telah berlalu. Dengan teknologi yang lebih maju, maka "teka-teki" tersebut akan lebih muda dipecahkan.

Bahasa arab sekarang ini merupakan bahasa nasional Mesir, yang menggantikan bahasa Koptik secara bertahap sebagai bahasa sehari-hari selama berabad-abad setelah penaklukan Islam atas Mesir. Koptik masih digunakan sebagai bahasa liturgi oleh Gereja Ortodoks Koptik dan Gereja Katolik Koptik, serta menjadi bahasa ibu untuk beberapa orang. Bahasa Perancis dan Inggris juga dipakai setelah bahasa Arab. Di bumi para Nabi ini, budaya membaca dan tulis-menulis sangat maju, terbukti dengan banyaknya buku baru yang terbit dalam waktu yang cukup berdekatan. Di Negeri ini juga banyak buku baru yang terbit secara Intensif. Media massanya juga terbuka. Budaya beli buku adalah pemandangan umum yang terjadi disetiap awal tahun ketika pameran buku internasional (book fair) digelar dipusat kota Cairo. Kesempatan ini dimanfaatkan mahasiswa sebagai ajang beli kitab besar-besaran karena harga yang relatif lebih murah.

Di Mesir juga, kita jumpai banyak ulama dengan kaliber Internasional, ulama yang tawaddu’ dan ikhlas mengajarkan ilmunya kepada orang yang menuntut ilmu. Namun anehnya, tingkat buta huruf di Mesir masih tinggi juga. Kontradiksi serupa dapat kita saksikan pula pada aspek-aspek kehidupan lainnya seperti budaya orang-orang kaya yang gemar memiliki kendaraan impor mutakhir. Sementara di sisi lain, masih ada saja orang miskin di kota yang mengendarai keledai.

Ada juga hal-hal yang seharusnya tidak terjadi di negara kuat keislamannya seperti Mesir ini. Seperti kurang diperhatikannya masalah kebersihan, tidak adanya kedisiplinan lalu lintas, administrasi yang semrawut dan kondisi-kondisi lain yang aneh. Maka, tidak jarang dalam urusan-urusan administrasi, seseorang yang capek-capek antri dalam waktu yang lama, ketika tiba gilirannnya dibilang “Bukroh (Besok)!” atau “kaman nifsu sa’ah (setengah jam lagi)!” Sehingga dibutuhkan satu kesabaran yang tinggi dalam urusan-urusan di negeri ini. Tapi, bila kita pandai melobi (Bernujamalah), biasanya urusan menjadi lebih mudah dan cepat beres. Itulah segala pernak-pernik kehidupan sosial dan budaya di Mesir. Mungkin banyak yang belum kita jumpai segala keunikan sosial budaya di negri gudang peradaban dan ilmu pengetahuan ini.

Sehingga keterbatasan waktu dalam mencari informasi dan teknologi inilah yang mempengaruhi sedikitnya rangkuman ini, yang mana rangkuman ini saya buat sebagai pemenuhan tugas dari mata kuliah Sejarah Kebudayaan Dunia, Jurusan Pendidikan Sejarah, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Surabaya, untuk itu semoga dapat diterima dengan semestinya.

KEBUDAYAAN BANGSA MESIR KUNO

KEBUDAYAAN MESIR KUNO

Mesir Kuno adalah suatu peradaban kuno di bagian timur laut Afrika. Peradaban ini terpusat sepanjang pertengahan hingga hilir Sungai Nil yang mencapai kejayaannya pada sekitar abad ke-2 SM, pada masa yang disebut sebagai periode Kerajaan Baru. Daerahnya mencakup wilayah Delta Nil di utara, hingga Jebel Barkal di Katarak Keempat Nil. Pada beberapa zaman tertentu, peradaban Mesir meluas hingga bagian selatan Levant, Gurun Timur, pesisir pantai Laut Merah, Semenajung Sinai, serta Gurun Barat (terpusat pada beberapa oasis).

Peradaban Mesir Kuno berkembang selama kurang lebih tiga setengah abad. Dimulai dengan unifikasi awal kelompok-kelompok yang ada di Lembah Nil sekitar 3150 SM, peradaban ini secara tradisional dianggap berakhir pada sekitar 31 SM, sewaktu Kekaisaran Romawi awal menaklukkan dan menyerap wilayah Mesir Ptolemi sebagai bagian provinsi Romawi. Walaupun hal ini bukanlah pendudukan asing pertama terhadap Mesir, periode kekuasaan Romawi menimbulkan suatu perubahan politik dan agama secara bertahap di Lembah Nil, yang secara efektif menandai berakhirnya perkembangan peradaban independen Mesir.

Sepanjang Sungai Nil, pada milenium ke-10 SM, kebudayaan mengisar bijirin yang menggunakan jenis mata sabit terawal telah digantikan dengan kebudayaan penduduk pemburu, pengail, dan pengumpul-pemburu yang menggunakan peralatan batu. Bukti turut menunjukkan kehadiran manusia di barat daya Mesir, berhampiran sempadan Sudan, sebelum 8000 SM. Pertukaran cuaca dan/atau terlebih ragut sekitar 8000 SM mula mengeringkan padang ragut di Mesir, yang akhirnya mendorong kepada pembentukan Sahara (2500 SM), dan puak-puak awal dengan sendirinya terdorong untuk berpindah ke sungai Nil di mana mereka memajukan ekonomi pertanian setempat dan masyarakat yang lebih berpusat. Terdapat bukti ternakan dan penanaman bijirin di Timur Sahara pada milenium ke-7 SM. Sehingga 6000 SM penduduk Mesir purba di sudut baratdaya Mesir telah mengembala lembu dan membangun bangunan besar. Mortar dalam pembinaan bangunan telah digunakan menjelang 4000 SM. Tempoh Pradinasti Mesir berterusan sepanjang tempoh masa ini, sebelumnya dipegang oleh berbagai kebudayaan Naqada. pakar bagaimanapun memulakan Predinasti Mesir lebih awal, di Paleolithik Bawah (lihat Pradinasti Mesir).

Pada hakekatnya kebudayaan Mesir berkembang sejak 3000 SM, yang mana sudah kita ketahui berada di Lembah Sungai Nil, yaitu sungai terpanjang di dunia. Salah satu hasil-hasil dari kebudayaan Mesir Kuno yang telah banyak kita ketahui antara lain :

1. Piramida, yaitu bangunan yang terbuat dari batu yang disusun berbentuk kerucut yang berfungsi untuk menyimpan mummi. Mummi adalah mayat raja-raja Mesir Kuno yang diawetkan.
2. Obelisk, adalah tugu-tugu yang menjulang tinggi ke angkasa, sebagi tempat pemujaan.
3. Sphinx, adalah patung hewan-hewan mitologis yang bebadan singa dan bermuka manusia.
4. Hieroglyph, adalah huruf berbentuk gambar yang diukir pada batu. Hieroglyph ini menjadi dasar alphabet yang sekarang kita pakai. Penelitian tentang huruf Hieroglyph pertama kali dilakukan oleh Heredotus abad ke-6 SM, tetapi ia tidak berhasil; mengungkapkan isi tulisan tersebut.
5. Batu Roseta yaitu batu bertulis yang ditemukan di tepi Sungai Roseta. Dalam batu ini terdapat tulisan Hieroglyp dan tulisan Yunani Kuno.

Isi tulisan Hieroglyph baru dapat diketahui setelah ditemukannya Batu Roseta,
Mesir merupakan satu-satunya pusat kebudayaan tertua di benua Afrika yang berasal dari tahun 4000 SM. Hal ini diketahui melalui penemuan sebuah batu tulis di daerah Rosetta oleh pasukan Perancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte (1797-1799). Ketika itu pasukan Perancis yang dipimpin oleh Napoleon Bonaparte melancarkan serangan terhadap penduduk daerah Mesir (1797-1798). Batu tulis itu berhasil dibaca oleh seorang Perancis yang bernama Jean Francois Champollion (1800) sehingga sejak tahun itu diadakan penelitian guna mengungakap tabir sejarah Mesir Kuno yang berasal dari tahun 4000 SM. Maka untuk mengungkap isi tulisan Hieroglyph tersebut Napoleon menyuruh sejarawan Perancis yang bernama Champollion (yang mana telah dapat membaca tulisan yang ada pada batu tersebut) untuk meneliti seluruh isi tulisan tersebut sehingga dapat diketahui maksud dari batu tulis tersebut.

Hasil penelitian Champollion selama 20 tahun itu akhirnya dapat mengungkap sejarah Mesir Kuno sehingga menghasilkan perpustakaan Mesir Kuno yang ditulis diatas bahan Papyrus (tumbuhan air yang berada di tepi Sungai Nil).

Bangsa Mesir juga mempunyai seni budaya terhadap hal keagamaan yang mana mereka mempercayai adanya para dewa.Kepercayaan bangsa Mesir Kuno yang taat kepada para dewa sangat ini membantu akan terciptanya seni budaya sebagai ungkapan keagamaannya. Perilaku ini didasari oleh kepercayaan kehidupan setelah kematian. Mereka selalu membawa warisan yang indah dan bernilai tinggi untuk menemani jasadnya. Hal ini mendorong bangsa Mesir selalu berlomba untuk menciptakan seni dan benda seni agar dapat dibawa dalam kematiannya. Peninggalan-peninggalan ini tampak dalam bangunan pyramid. Sejarah Mesir Kuno ini sangat mempengaruhi sejarah budaya pada umumnya, penemuan tulisan hieroglief dan hieratic di dinding makam dan beberapa artefak lain. Dari penemuan ini maka dapat terungkap pula sejarah Mesir Kuno yang belum terungkap. (1991)

Kira-kira 33 abad sebelum masehi terjadi suatu perubahan tradisi yang mana dari mempercayai para dewa menjadi mempercayai matahari sebagai Tuhan.Yang mana saat itu bertachtalah Queen Nefertete di ancient Egypt didampingi Pharao Amenhotep IV alias Amenophis IV alias Achnaton. Nefertete adalah putri seorang penjabat tinggi yang bekerja untuk Farao dalam istana.Achnaton dan Nefertete bertachta dalam dinasti yang ke-18 dari Kerajaan Baru.Achnaton naik tachta pada tahun 1353 SM.Mengapa dia merubah namanya menjadi Achnaton? Karena dia merubah tradisi orang-orang Mesir. Yang mana biasanya mereka menghormati the gods atau para dewa, tetapi Achnaton mengganti hal ini menjadi satu tuhan ialah tuhan matahari Aton. Achnaton nama ini berarti Dia yang seperti Aton,dengan kata lain: Achnaton di-puja bagaikan the god of the sun sendiri.
Pada dasarnya hasil dari kebudayaan Mesir yang sangat indah dan megah yaitu adalah bangunan Piramida yang mana sudah kita ketahui bahwa bangunan ini sudah masuk dalam 7 keajaiban dunia, serta terdapat satu lagi bangunan yang tidak kalah menariknya yaitu bangunan patung Spinx yang bentuk badannya menyerupai singa dengan bentuk wajah mirip manusia.

Sejak dulu kedua bangunan ini dipandang sebagai bangunan yang misterius dan megah oleh orang-orang. Namun, meskipun telah berlalu berapa tahun lamanya, setelah sarjana dan ahli menggunakan sejumlah besar alat peneliti yang akurat dan canggih, masih belum diketahui, siapakah sebenarnya yang telah membuat bangunan raksasa yang tinggi dan megah itu? Dan berasal dari kecerdasan manusia manakah prestasi yang tidak dapat dibayangkan di atas bangunan itu? Serta apa tujuannya membuat bangunan tersebut? Dan pada waktu itu ia memiliki kegunaan yang bagaimana atau apa artinya? Teka-teki yang terus berputar di dalam benak semua orang selama ribuan tahun, dari awal hingga akhir merupakan misteri yang tidak dapat dijelaskan. Meskipun sejarawan mengatakan ia didirikan pada tahun 2000 lebih SM, namun pendapat yang demikian malah tidak bisa menjelaskan kebimbangan yang diinisiasikan oleh sejumlah besar penemuan hasil penelitian.

Bahkan, seorang sarjana John Washeth juga berpendapat: Bahwa Piramida raksasa dan tetangga dekatnya yaitu Sphinx dengan bangunan masa kerajaan ke-4 lainnya sama sekali berbeda, ia dibangun pada masa yang lebih purbakala dibanding masa kerajaan ke-4. Dalam bukunya "Ular Angkasa", John Washeth mengemukakan: perkembangan budaya Mesir mungkin bukan berasal dari daerah aliran sungai Nil, melainkan berasal dari budaya yang lebih awal dan hebat yang lebih kuno ribuan tahun dibanding Mesir kuno, warisan budaya yang diwariskan yang tidak diketahui oleh kita. Ini, selain alasan secara teknologi bangunan yang diuraikan sebelumnya, dan yang ditemukan di atas yaitu patung Sphinx sangat parah dimakan karat juga telah membuktikan hal ini.

Ahli ilmu pasti Swalle Rubich dalam "Ilmu Pengetahuan Kudus" menunjukkan: pada tahun 11.000 SM, Mesir pasti telah mempunyai sebuah budaya yang hebat. Pada saat itu Sphinx telah ada, sebab bagian badan singa bermuka manusia itu, selain kepala, jelas sekali ada bekas erosi. Perkiraannya adalah pada sebuah banjir dahsyat tahun 11.000 SM dan hujan lebat yang silih berganti lalu mengakibatkan bekas erosi.

Perkiraan erosi lainnya pada Sphinx adalah air hujan dan angin. Washeth mengesampingkan dari kemungkinan air hujan, sebab selama 9.000 tahun di masa lalu dataran tinggi Jazirah, air hujan selalu tidak mencukupi, dan harus melacak kembali hingga tahun 10000 SM baru ada cuaca buruk yang demikian. Washeth juga mengesampingkan kemungkinan tererosi oleh angin, karena bangunan batu kapur lainnya pada masa kerajaan ke-4 malah tidak mengalami erosi yang sama. Tulisan berbentuk gajah dan prasasti yang ditinggalkan masa kerajaan kuno tidak ada sepotong batu pun yang mengalami erosi yang parah seperti yang terjadi pada Sphinx.

Profesor Universitas Boston, dan ahli dari segi batuan erosi Robert S. juga setuju dengan pandangan Washeth sekaligus menujukkan: Bahwa erosi yang dialami Sphinx, ada beberapa bagian yang kedalamannya mencapai 2 meter lebih, sehingga berliku-liku jika dipandang dari sudut luar, bagaikan gelombang, jelas sekali merupakan bekas setelah mengalami tiupan dan terpaan angin yang hebat selama ribuan tahun.
Bahkan Washeth dan Robert S. juga menunjukkan: Teknologi bangsa Mesir kuno tidak mungkin dapat mengukir skala yang sedemikian besar di atas sebuah batu raksasa, produk seni yang tekniknya rumit.

Jika diamati secara keseluruhan, kita bisa menyimpulkan secara logis, bahwa pada masa purbakala, di atas tanah Mesir, pernah ada sebuah budaya yang sangat maju, namun karena adanya pergeseran lempengan bumi, daratan batu tenggelam di lautan, dan budaya yang sangat purba pada waktu itu akhirnya disingkirkan, meninggalkan piramida dan Sphinx dengan menggunakan teknologi bangunan yang sempurna.

Demikianlah keterangan mengenai kebudayaan bangsa Mesir Kuno yang begitu sangat memberikan pengaruh perubahan peradaban yang sangat besar terhadap perkembangan dunia ini yang mana dapat saya sampaikan dan semoga rangkuman ini dapat diterima sebagai pemenuhan tugas yang semestinya.

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA PADA TAHUN 1500-1800 M

PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM DI NUSANTARA PADA TAHUN 1500-1800
by : Yusup Rakhmad Susianto

1. Perkembangan Politik

Menurut Muljana (2007;129) jalan pelayaran di Tiongkok ke India atau kebalikannya sudah dikenal sebelum timbulnya kota pelabuhan Malaka. Pada zaman Sriwijaya dalam abad ke-7. Baru setelah kemunculan kerajaan Islam Malaka melalui perkawinan antara raja Paramesvara dengan putri dari Pasai melahirkan kerajaan Islam Pasai, dan raja Paramesvara bergelar Sultan Megat Iskandar Syah. Kemunculan kesultanan Pasai menandakan kemunculan pertama supremasi politik Islam di Sumatera yang pada tahapan selanjutnya melahirkan kesultanan Demak di bawah Raden Patah atau Panembahan Jimbun.

Pada masa Islam system politik tidak sepenuhnya berubah. Sistem tradisional yang telah dimulai sejak zaman Hindhu-Buddha tetap dipakai, walaupun mengalami sedikit perubahan. Selain itu, dalam penentuan wilayah kekuasaan, di Demak dan Pasai tetap dilaksanakan konsep lama. Sebagaimana diketahui, dalam konsep tataruang tradisional Hindhu-Buddha dikenal konsep kosmik kutagara-nagara-mancanagara. Menurut Ricklefs (2008;49-60), konsep kosmis ini mencerminkan sejauh mana pengaruh pribadi seorang raja dihormati bahkan ditakuti oleh kerajaan-kerajaan kecil disekitarnya. Sebagai contoh pada masa Majapahit, wilayah Blambangan atau saat ini dikenal sebagai Banyuwangi di pesisir timur pulau Jawa menjadi wilayah mancanagara atau wilayah lain di luar nagara Majapahit, begitu pula pada masa Demak Bintoro, Blambangan tetap menjadi wilayah diluar Majapahit.

Diakui atau tidak, dari segi politik peradaban Islam di nusantara justru mengalami kondisi yang “kurang kondusif” sebagai akibat sejak awal Islam masuk ke nusantara melalui jalur ekonomi. Bahkan dapat dikatakan, ketika Islam menjadi agama Negara, banyak wilayah yang dahulu berada dibawah supremasi Majapahit mulai lepas satu per satu. Negara lebih berfokus pada penyebaran agama daripada wilayah, bahkan jangankan memperluas wilayah, untuk mempertahankannya saja butuh tenaga yang tidak sedikit.

Menurut Claude Guliot (2008;45), tanah Jawa pada masa Islam cenderung mengalami penurunan supremasi politik diwilayahnya sendiri. Bahkan jika melihat tulisan dari Ida Bagus Putra Rai (2007;34), mundurnya peradaban Hindhu di Jawa menyebabkan terjadi konsentrasi kekuatan di pulau Bali dan melahirkan perlawanan subversive raja-raja Bulelelang dan Blambangan terhadap Demak. Komunitas Hindhu Blambangan meminta bantuan militer kepada kerajaan Buleleng untuk membendung pengaruh Islam di Timur pulau Jawa agar tidak sampai ke Bali. Demikianlah sekilas perkembangan politik nusantara setelah masuknya Islam.

2. Perkembangan Sosial Budaya

Mengenai perkembangan social budaya di nusantara pada masa peradaban Islam dapat dilihat dari munculnya kreasi-kreasi budaya memadukan unsur-unsur Hindhu-Buddha dengan Islam. Sudah banyak tulisan mengenai wujud budaya hasil akulturasi dan asimilasi hasil kebudayaan zaman pra-aksara, Hindhu-Budhha, dan Islam. Sebagai contoh makam, petirtaan dan pertapaan menjadi contoh konkrit adanya asimilasi dan akukturasi budaya Islam dengan budaya setempat (Suwandi, 2008, Sejengkal Kreatif Beragam Fantasi II, Surabaya: FIS UNESA, hal. 57). Selain hasil konkrit perpaduan Islam dalam wujud bangunan, dapat juga kita temukan dalam tradisi intelektual dan pembentukan lembaga pendidikan agama atau pesantren yang dapat dikatakan memiliki unsure klasik pra-Islam yang sangat kental salah satunya tradisi intelektual pesantren pesisiran.

Menurut Suryo (2000;06) hasil proses penyebaran Islam di Jawa telah melahirkan kreatifitas intelektual di lingkungan pesantren di Pesisir Utara Jawa pada sekitar abad ke-16 hingga abad ke-17, berupa karya-karya pemikiran tasawuf dan mistik Islam, karya sastra pesisiran, seni arsitektur, seni macapat, bahasa pesisiran, seni pakaian, seni pewayangan dan system pendidikan tradisional pesantren.

Karya pemikiran teologis yang berorientasi pada ajaran tasawuf dan mistik Islam seperti yang tertuang dalam karya sastra jenis Suluk pada hakekatnya merupakan salah satu ciri penting dari karya intelektual pesantren, di daerah pesisiran. Kitab Bonang, Suluk Wujil, Suluk Malang Sumirang, Serat Pitutur Syekh Bari, ajaran “Etika Orang Islam Jawa”, dapat dipandang mewakili karya pemikiran intelektual pada zamannya. Semunya itu ditulis dengan aksara pegon dan dengan gaya bahasa pesisiran.

Salah satu ciri karya pesisiran diantaranya ditandai dengan pembacaan basmalah, shalawat Nabi, dan syahadat yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa pada bagian awal. Ciri ini tidak ditemukan dalam karya sastra bentuk tembang di kraton pedalaman Jawa (Surakarta dan Yogyakarta). Berikut ini contoh bunyi bait (pupuh/wirama) pertama dari teks Babad Demak Pesirian.

“Bismillahirrohmanirrohim. Ingsun animati amuji. Anebut nama Hyang Sukma. Kang murah hing dunya manke. Ingkang……ing akherat. Kang pinuji datan pegat. Angganjar kawetas ayun, angapura wong kawetas ayun.”

Demikianlah sekelumit mengenai perkembangan social budaya peradaban Islam di nusantara.

3. Perkembangan Ekonomi

Mengenai perkembangan ekonomi nusantara pada masa peradaban Islam dapat dilihat dari sejak masuknya Islam di nusantara. Suwandi (2008; 268) menyebutkan bahwa kedatanagan Islam tidak dapat dilepaskan dari peranan bangsawan Arab yang datang ke nusantara. Tidak hanya itu saja, mayoritas pedagang itu merupakan etnis Gujarat yang datang ke nusantara dengan membawa Islam tasawuf. Sebagai ditulis oleh Woodward (2004, Islam Java, Gramedia Jakarta, hlm. 234), “…..kaum muslim Persia dan India yang datang ke Indonesia tidak hanya berdagang, mereka juga menemukan kecocokan dalam pemahaman keagamaan. Terutama mereka merupakan penganut tasawuf ajaran Yahya Suhrawardi dan al-Farabi, sabagian murid langsung dari al-Hallaj. Pemikiran Suhrawardi merupakan pemikiran yang secara estafet ia dapatkan dari gurunya, al-Hallaj dan bersumber dari tulisan-tulisan al-Junaid dari Persia, seorang ulama Sunni yang menulis sebuah kitab berjudul Nur al-Nubuwah. Kitab yang berisi ajaran mistik peleburan seorang makhluk dengan Sang Khaliq. Ajaran ini banyak menyebar dan popular dikalangan muslim Pakistan dan dengan cepat mendapat wadah yang cocok di kepulauan Indonesia…”

Mata rantai ajaran ini disebarkan melalui jalur perdagangan yang sudah umum sejak masa Hindhu-Buddha klasik. Jalur ekonomi ini pula yang mengenalkan masyarakat nusantara dengan komunitas muslim Arab. Pada masa awal banyak bangsawan Arab yang diizinkan membuka pemukiman di sepanjang pesisir, dan dari sini tumbuh banyak pelabuhan-pelabuhan baru dipesisir utara pulau Jawa. Dengan dibukanya jalur laut baru, pihak penguasa local dan bangsawan local dapat dengan mudah menyalurkan komoditas-komoditasnya untuk dijual kepada para pedagang yang datang dari Arab, India, dan Cina. Dari sinilah bangsa Arab mengetahui bahwa sumber asal rempah-rempah berada di nusantara bukannya di India yang selama ini mereka kira. Sebagai bukti, dalam sebuah peta dunia buatan al-Biruni terdapat sebuah lokasi dibagian timur bumi dan disana diberi inisial dengan kata Arab sanadun yang bermakna rempah-rempah.

Menurut Dekan Fakultas Ushuludin, Universitas Islam Bandung, H. Abd. Yusuf, di peta hanya ada satu kata dengan tiga huruf yang menunjukkan lokasi sumber rempah-rempah yaitu syin, nun dan dal. Dan apabila dibaca menurut ilmu geografi dan kartografi klasik atau falaq, serta bila diperhatikan bahwa garis nol meridian pada masa klasik bukan berada di Greenwich melainkan di Mekkah maka lokasi ini adalah nusantara, karena kepulauan ini sesuai dengan gambaran peta tersebut dan merupakan sumber rempah-rempah. Bukti lain, kata sanaduni ini dibaca oleh Belanda sebagai Sunda dan Inggris membacanya sebagai Sindu. Oleh karena itu keduanya berkeinginan kuat untuk menguasai India dan pulau Jawa. (A.M. Suryanegara, 2008, Api Sejarah, Bandung; Salamadani, hal. 2-8).

Masih menurut Suryanegara (Ibid, 8-15), masyarakat nusantara pada masa Islam menggunakan tulisan Arab sebagai writing technic franca atau metode penulisan umum. Dalam tulisan klasik Islam banyak ditemukan koin-koin kesultanan Islam dengan tulisan pegon, salah satunya koin yang dari kesultanan Goa yang bertuliskan “as Sulthan Amir Hamzah”, dan juga mata uang awal dari VOC ketika baru pertama kali tercipta kongsi dagang di Batavia dengan tulisan “al Jazirah Jawa al Kabir.” Demikianlah sekilas mengenai perkembangan ekonomi nusantara pada masa Islam.