Powered By Blogger

DicAri

Kamis, 17 Desember 2009

PERKEMBANGAN ISLAM DI INDONESIA PADA TAHUN 1500-1800 M

PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM DI NUSANTARA PADA TAHUN 1500-1800
by : Yusup Rakhmad Susianto

1. Perkembangan Politik

Menurut Muljana (2007;129) jalan pelayaran di Tiongkok ke India atau kebalikannya sudah dikenal sebelum timbulnya kota pelabuhan Malaka. Pada zaman Sriwijaya dalam abad ke-7. Baru setelah kemunculan kerajaan Islam Malaka melalui perkawinan antara raja Paramesvara dengan putri dari Pasai melahirkan kerajaan Islam Pasai, dan raja Paramesvara bergelar Sultan Megat Iskandar Syah. Kemunculan kesultanan Pasai menandakan kemunculan pertama supremasi politik Islam di Sumatera yang pada tahapan selanjutnya melahirkan kesultanan Demak di bawah Raden Patah atau Panembahan Jimbun.

Pada masa Islam system politik tidak sepenuhnya berubah. Sistem tradisional yang telah dimulai sejak zaman Hindhu-Buddha tetap dipakai, walaupun mengalami sedikit perubahan. Selain itu, dalam penentuan wilayah kekuasaan, di Demak dan Pasai tetap dilaksanakan konsep lama. Sebagaimana diketahui, dalam konsep tataruang tradisional Hindhu-Buddha dikenal konsep kosmik kutagara-nagara-mancanagara. Menurut Ricklefs (2008;49-60), konsep kosmis ini mencerminkan sejauh mana pengaruh pribadi seorang raja dihormati bahkan ditakuti oleh kerajaan-kerajaan kecil disekitarnya. Sebagai contoh pada masa Majapahit, wilayah Blambangan atau saat ini dikenal sebagai Banyuwangi di pesisir timur pulau Jawa menjadi wilayah mancanagara atau wilayah lain di luar nagara Majapahit, begitu pula pada masa Demak Bintoro, Blambangan tetap menjadi wilayah diluar Majapahit.

Diakui atau tidak, dari segi politik peradaban Islam di nusantara justru mengalami kondisi yang “kurang kondusif” sebagai akibat sejak awal Islam masuk ke nusantara melalui jalur ekonomi. Bahkan dapat dikatakan, ketika Islam menjadi agama Negara, banyak wilayah yang dahulu berada dibawah supremasi Majapahit mulai lepas satu per satu. Negara lebih berfokus pada penyebaran agama daripada wilayah, bahkan jangankan memperluas wilayah, untuk mempertahankannya saja butuh tenaga yang tidak sedikit.

Menurut Claude Guliot (2008;45), tanah Jawa pada masa Islam cenderung mengalami penurunan supremasi politik diwilayahnya sendiri. Bahkan jika melihat tulisan dari Ida Bagus Putra Rai (2007;34), mundurnya peradaban Hindhu di Jawa menyebabkan terjadi konsentrasi kekuatan di pulau Bali dan melahirkan perlawanan subversive raja-raja Bulelelang dan Blambangan terhadap Demak. Komunitas Hindhu Blambangan meminta bantuan militer kepada kerajaan Buleleng untuk membendung pengaruh Islam di Timur pulau Jawa agar tidak sampai ke Bali. Demikianlah sekilas perkembangan politik nusantara setelah masuknya Islam.

2. Perkembangan Sosial Budaya

Mengenai perkembangan social budaya di nusantara pada masa peradaban Islam dapat dilihat dari munculnya kreasi-kreasi budaya memadukan unsur-unsur Hindhu-Buddha dengan Islam. Sudah banyak tulisan mengenai wujud budaya hasil akulturasi dan asimilasi hasil kebudayaan zaman pra-aksara, Hindhu-Budhha, dan Islam. Sebagai contoh makam, petirtaan dan pertapaan menjadi contoh konkrit adanya asimilasi dan akukturasi budaya Islam dengan budaya setempat (Suwandi, 2008, Sejengkal Kreatif Beragam Fantasi II, Surabaya: FIS UNESA, hal. 57). Selain hasil konkrit perpaduan Islam dalam wujud bangunan, dapat juga kita temukan dalam tradisi intelektual dan pembentukan lembaga pendidikan agama atau pesantren yang dapat dikatakan memiliki unsure klasik pra-Islam yang sangat kental salah satunya tradisi intelektual pesantren pesisiran.

Menurut Suryo (2000;06) hasil proses penyebaran Islam di Jawa telah melahirkan kreatifitas intelektual di lingkungan pesantren di Pesisir Utara Jawa pada sekitar abad ke-16 hingga abad ke-17, berupa karya-karya pemikiran tasawuf dan mistik Islam, karya sastra pesisiran, seni arsitektur, seni macapat, bahasa pesisiran, seni pakaian, seni pewayangan dan system pendidikan tradisional pesantren.

Karya pemikiran teologis yang berorientasi pada ajaran tasawuf dan mistik Islam seperti yang tertuang dalam karya sastra jenis Suluk pada hakekatnya merupakan salah satu ciri penting dari karya intelektual pesantren, di daerah pesisiran. Kitab Bonang, Suluk Wujil, Suluk Malang Sumirang, Serat Pitutur Syekh Bari, ajaran “Etika Orang Islam Jawa”, dapat dipandang mewakili karya pemikiran intelektual pada zamannya. Semunya itu ditulis dengan aksara pegon dan dengan gaya bahasa pesisiran.

Salah satu ciri karya pesisiran diantaranya ditandai dengan pembacaan basmalah, shalawat Nabi, dan syahadat yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa pada bagian awal. Ciri ini tidak ditemukan dalam karya sastra bentuk tembang di kraton pedalaman Jawa (Surakarta dan Yogyakarta). Berikut ini contoh bunyi bait (pupuh/wirama) pertama dari teks Babad Demak Pesirian.

“Bismillahirrohmanirrohim. Ingsun animati amuji. Anebut nama Hyang Sukma. Kang murah hing dunya manke. Ingkang……ing akherat. Kang pinuji datan pegat. Angganjar kawetas ayun, angapura wong kawetas ayun.”

Demikianlah sekelumit mengenai perkembangan social budaya peradaban Islam di nusantara.

3. Perkembangan Ekonomi

Mengenai perkembangan ekonomi nusantara pada masa peradaban Islam dapat dilihat dari sejak masuknya Islam di nusantara. Suwandi (2008; 268) menyebutkan bahwa kedatanagan Islam tidak dapat dilepaskan dari peranan bangsawan Arab yang datang ke nusantara. Tidak hanya itu saja, mayoritas pedagang itu merupakan etnis Gujarat yang datang ke nusantara dengan membawa Islam tasawuf. Sebagai ditulis oleh Woodward (2004, Islam Java, Gramedia Jakarta, hlm. 234), “…..kaum muslim Persia dan India yang datang ke Indonesia tidak hanya berdagang, mereka juga menemukan kecocokan dalam pemahaman keagamaan. Terutama mereka merupakan penganut tasawuf ajaran Yahya Suhrawardi dan al-Farabi, sabagian murid langsung dari al-Hallaj. Pemikiran Suhrawardi merupakan pemikiran yang secara estafet ia dapatkan dari gurunya, al-Hallaj dan bersumber dari tulisan-tulisan al-Junaid dari Persia, seorang ulama Sunni yang menulis sebuah kitab berjudul Nur al-Nubuwah. Kitab yang berisi ajaran mistik peleburan seorang makhluk dengan Sang Khaliq. Ajaran ini banyak menyebar dan popular dikalangan muslim Pakistan dan dengan cepat mendapat wadah yang cocok di kepulauan Indonesia…”

Mata rantai ajaran ini disebarkan melalui jalur perdagangan yang sudah umum sejak masa Hindhu-Buddha klasik. Jalur ekonomi ini pula yang mengenalkan masyarakat nusantara dengan komunitas muslim Arab. Pada masa awal banyak bangsawan Arab yang diizinkan membuka pemukiman di sepanjang pesisir, dan dari sini tumbuh banyak pelabuhan-pelabuhan baru dipesisir utara pulau Jawa. Dengan dibukanya jalur laut baru, pihak penguasa local dan bangsawan local dapat dengan mudah menyalurkan komoditas-komoditasnya untuk dijual kepada para pedagang yang datang dari Arab, India, dan Cina. Dari sinilah bangsa Arab mengetahui bahwa sumber asal rempah-rempah berada di nusantara bukannya di India yang selama ini mereka kira. Sebagai bukti, dalam sebuah peta dunia buatan al-Biruni terdapat sebuah lokasi dibagian timur bumi dan disana diberi inisial dengan kata Arab sanadun yang bermakna rempah-rempah.

Menurut Dekan Fakultas Ushuludin, Universitas Islam Bandung, H. Abd. Yusuf, di peta hanya ada satu kata dengan tiga huruf yang menunjukkan lokasi sumber rempah-rempah yaitu syin, nun dan dal. Dan apabila dibaca menurut ilmu geografi dan kartografi klasik atau falaq, serta bila diperhatikan bahwa garis nol meridian pada masa klasik bukan berada di Greenwich melainkan di Mekkah maka lokasi ini adalah nusantara, karena kepulauan ini sesuai dengan gambaran peta tersebut dan merupakan sumber rempah-rempah. Bukti lain, kata sanaduni ini dibaca oleh Belanda sebagai Sunda dan Inggris membacanya sebagai Sindu. Oleh karena itu keduanya berkeinginan kuat untuk menguasai India dan pulau Jawa. (A.M. Suryanegara, 2008, Api Sejarah, Bandung; Salamadani, hal. 2-8).

Masih menurut Suryanegara (Ibid, 8-15), masyarakat nusantara pada masa Islam menggunakan tulisan Arab sebagai writing technic franca atau metode penulisan umum. Dalam tulisan klasik Islam banyak ditemukan koin-koin kesultanan Islam dengan tulisan pegon, salah satunya koin yang dari kesultanan Goa yang bertuliskan “as Sulthan Amir Hamzah”, dan juga mata uang awal dari VOC ketika baru pertama kali tercipta kongsi dagang di Batavia dengan tulisan “al Jazirah Jawa al Kabir.” Demikianlah sekilas mengenai perkembangan ekonomi nusantara pada masa Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar