Powered By Blogger

DicAri

Kamis, 17 Desember 2009

PRASEJARAH INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kehidupan pada zaman purba yang masih dipertanyakan oleh banyak ilmuan menjadi dasar mereka yang harus diteliti lebih lanjut. Beberapa asumsi/teori yang menjadi permasalahan akhirnya perlu dibuktikan kebenaraanya termasuk teori Darwin bahwa manusia berasal dari evolusi kera yang cukup lama. Banyak dari berbagai pihak mengecam teori tersebut, termasuk dari golongan kerohanian. Menanggapi isu kontra visual, seorang ilmuan belanda E. Debois yang bekerja sebagai pejabat kedokteran di universitas memutuskan keluar dan ikut gebung menjadi tentara kolonial belanda (KNIL) sebagai pejabat kedokteran pada tahun 1887, dengan tujuan ditempatkan di Hindia Belanda saat itu adalah Indonesia. Dengan keinginanya itu Eugene Debois bertujuan meneruskan para penelitian yang dilakukan oleh para ilmuan di penjuru dunia yang belum sempat terselesaikan untuk mengungkapnya. THE MISSING LINK yaitu mata rantai makanan penghubung antara manusia dengan binatang leluhurnya yang hilang menurut evolusi manusia, yang telah dikemukaan oleh Darwin menjadi bahan dasar permasalahan yang perlu diteliti. E. Debois menyatakan beberapa beberapa dasar tempat manusia purba;
A. Berdasarkan buku the Descent of man yang menyatakan bahwa nenek monyang manusia seharusnya hidup didaerah tropis karena manusia purba kehilangan bulunya semasa perkembanganya.
B. Di Hindia Belanda yaitu Indonesia banyak goa-goa yang tidak mustahil akan ditemui fosil-fosil ataupun kehidupan manusia purba.
Sejak itulah penelitian di wilayah daerah tropis khususnya indonesia dimulai pada tahun 1887 terus digali untuk mendapat jawaban siapa nenek moyang manusia dahulu, disamping itu berbagai fosil peniggalan pada masa ploestosen banyak terungkap khususnya didaerah Sangiran yang menjadi tempat hunian manusia purba terlama, dan hasil penemuan yang cukup melimpah ±50% dari populasi Homo Erectus di dunia.



1.2 Rumusan Masalah
o Bagaimana penelitian didaerah Trinil dilakukan dan apa hasil dari penelitian itu.
o Apa saja yang bisa diketahui dari kebudayaan Matesih.
o Bagaimana sejarah Situs Sangiran berlangsung dan apa saja penemuannya.

1.3 Tujuan Observasi Lapangan
o Mampu mengidentifikasi perkembangan sejarah zaman purba dari hasil penelitian.
o Mampu mendiskripsikan hasil observasi yang telah diamati.
o Mengkaitkan kawasan situs sangiran yang dilihat secara geomorfologi dengan perkembangan penelitian zaman purba.

1.4 Manfaat Observasi Lapangan
o Memahami secara ilmiah perkembangan zaman purba melalui situs penemuan yang telah ditemukan.
o Dapat mendiskripsilan secara detail mengetahui perkembangan zamanya terhadap situs kebudayaan matesih.
o Dapat memahami secara ilmiah hubungan antara bentuk daratan Sangiran dengan benda-benda situs purbakala yang ditemukan.



BAB II
METODOLOGI PENELITIAN

2.1 Metodologi Study Lapangan
o OBSERVASI
Penelitian secara langsung meneliti terhadap obyek yang diteliti, disamping itu dipandu oleh seorang Gaide untuk menjelaskan obyek yang diamati secara berurutan dan terperinci. Beberapa tempat yang menjadi obyek penelitian kami secara berurutan meliputi:
1. Situs Matesih terdapat benda-benda situs yang diperkiraakan perkembanganya pada zaman Mesolithikhum
2. Situs Musium Trinil merupakan tempat yang telah membuahkan hasil terhadap penelitian yang dilakukan oleh E. Debois setelah penelitianya yang pertama kali gagal .
3. Daerah Sejarah Sangiran Dome dan Situs Museum Sangiran yang merupakan wilayah peradapan nenek moyang manusia berdasarkan tempat penemuan terbesar.
o WAWANCARA
1. Dilakukan pada juru kunci secara langsung atau pemandu.
2. Dilakukan pada masyarakat sekitar.
3. Dilakukan pada para pengunjung

2.2 Tempat Study Lapangan
1. Situs Matesih berada di Dukuh Ngasinan Elor, Kec. Matesih
2. Situs Museum Trinil berada di Pedukuan Pilang, Ds. Kawu Kec Kedunggalar Kab. Ngawi
3. Daerah Sejarah Sangiran Dome dan Situs Museum Sangiran yang berada Dukuh Sangiran Utara Ds. Krikil, Kec.Kaliambe, Kab.Sragen.
Dukuh Sangiran Selatan Ds. Krendowahono, Kec. gondangrejo, Kab. Karanganyar




2.3 Narasumber
Penelitian mempunyai beberapa sumber untuk dijadikan pondasi dalam penyusunan penelitian yang dilakukan dilapangan antara lain ;
a. Penelitian mengambil secara langsung gambar obyek
b. Penelitian mengadakan wawancara yang ditujukan dan masyarakat sekitar
c. Penelitian mempunyai buku referensi tentang asal-usul onyek yang diamati.

2.4 Alat dan Bahan
1. Buku catatan sebagai dari hasil penelitian dan wawancara yang digunakan untuk penyusunan penelitian agar tersusun sistematis dan terperinci.
2. Camera digital sebagai pengambil gambar obyek yang diteliti, agar sipembaca mengetahui gambaran obyek yang diamati.

BAB III
PEMBAHASAN

A. MUSEUM TRINIL
1. Situs Museum Trinil
Situs Musem Trinil terletak di pedukuan Pilang, Ds.kawu, Kec.Kedunggalar Kab.Ngawi Jawa Timur. Situs Trinil dalam penelitian merupakan tempat hunian kehidupan purba pada masa Ploestosen tengah ± 1 juta tahun yang lalu. Disamping ditemukan fosil manusia purba, Situs ini juga menyimpan bukti-bukti adanya lingkungan baik flora maupun faunanya. Penelitian di Trinil dilakukan pertama kali dilakukan oleh Eaugen Debois setelah penelitian pertamanya di Sumatra tidak membuahkan hasil. Sebelum E. Debois datang penemuan-penemuan sebelumnya telah dirintis oleh Wirodiharjo pada tahun 1968 dengan hasil secara kebetulan oleh Muskala (PSK). Dan baru dibangunlah pada tanggal 20 November 1991 kemudian diresmikan oleh kepala Daerah Tingkat I Jatim Bapak SOELARSO. Musium Trinil dikelolah oleh pemerintah, Depdikbud, Dirjend Kebudayaan Suaka Peninggalan dan Purbakala Jatim di Trowulan Mojokerto. Ditinjau dari koleksinya museum Trinil merupakan museum khusus, karena koleksinya hanya ada satu jenis yaitu ”Fosil” dan hasil dari sumber-sumber koleksinya didapat dari hasil penemuan Wirodihajo (Wiro Balung) yang ditemukan tidak sengaja, disamping itu dari hasil penyerahaan masyarakat baik dengan memberi imbalan jasa maupu diserahkan secara sukarela.

2. Sejarah Penelitian Di Daerah Trinil
Pertama kali datang E.Debois bertugas di sumatra dan mengadakan penelitian, namun hasil yang ditemukan di Payah Kumbuh pada tahun 1887 kurang memuaskan. Tidak satupun fosil manusia yang dianggap THE MISSINNK LINK ditemukaan. Akhirnya E.debois beralih ke Jawa karena mendengar kabar bahwa fosil manusia ditemukaan oleh Rietschoten didaerah Wajak, kemudian E.Debois menulusurinya penggalianya. Pada bulan November E. Debois menemukaan fosil manusia purba berupa rahang bawah di dekat Kedung Brubus. Penelitian tahap ke-dua yang dilakukan dipulau Jawa, E. Debois mengadakaan disekitar Bengawan Solo karena mendengar penemuan tulang yang besar yang disebut (Balung But). Disini E. Debois mendirikan gubuk dan pengalianya dibantu para tahanan. Pada bulan Agustus 1891 mereka menemukaan fosil binatang seperti Gajah, Badak, Gibon, Kuda Nil dan Lain2. Setelah satu bulan kemudian ditemukaan bagian terpenting yaitu Atap Tengkorak. Pada tahun 1892 ditemukaan kembali Tulang Paha yang berumur sama dengan penemuan sebelumnya yaitu Atap Tengkorak dan Tulang Tahang Bawah. Dari hasil penemuan itu, E. Debois menyimpulkan fosil itulah diyakini sebagai “MISSING LINK” dengan sebutan PITHECANTHROPUS ERECTUS yaitu Manusia Kera Berjalan Tegak. Tetapi DR.T. Yocob lebih menyebut “Homo Erectus” karena bahwa tulang menunjukan kesamaan dengan tulang manusia sekarang.
Setelah kepulangan E. Debois tahun 1895 dengan membawa semua hasil, penggalian dilanjutkan oleh rekannya yaitu Kriele dan De Winter sampai 1900 dengan menemukan 4 tulang paha. Dan pada tahun 1907-1908 penelitian oleh Salenka dari Jerman dengan menemukaan beberapa fosil tumbuhaan dan binatang yang berguna sekali untuk mengetahui lingkunganya, yang ditemukan 52 species fosil tumbuhan dan 21 masih hidup dan 4 masih hidup disekitar Trinil.

3. Pembagian Asal Mamalia Dan Masa Kemunculanya

kuarter Holosen Pisces Amphibia RepTulanglia Aves Mamalia Homo
Plestosen v v v v v v v v v v v v v v
Senozoik 22 Pleosen v v v v v v v v v v v v
Miosen v v v v v v v v v v v v
oligosen v v v v v v v v v v v v
65 Eosen v v v v v v v v v v v v
Paleosen v v v v v v v v v v v
Mesozoik 140 Kreta v v v v v v v v v v
195 Jura v v v v v v v v v
230 Trias v v v v v v
Paleozoik 280 Premium v v v v
345 Karbonefirum v v v
395 Devonium v v
435 Silirium v
560 Ordovisium v
570 Kambrium
Proterozoik 4500 Prekambrium
Arkeozoik




4. Pembagian Penelitian Paleoanthropology
Pembagian Penelitian Paleoanthropology di Indonesia dibagi menjadi Tiga tahap;
Tahap I pada Tahun 1889 sampai 1909 (hasil di Belanda)
Tahap II pada Tahun 1931 sampai 1941 (hasil di Frankfrut, Jerman)
Tahap III pada Tahun 1952 sampai sekarang ( hasil di Indonesia)

5. Museum Trinil Beserta Koleksinya
Museum Trinil merupakan museum khusus yang mengkoleksi hanya satu jenis barang koleksi yaitu “Fosil” dimana koleksi-koleksi didapat dari koleksi Bapak Wirodihardjo, dan para warga yang telah menemukan dan menyetorkan baik dengan ditukar dengan maksud mendapat imbalan atau secara sukarala. Bapak Wirodihardjo atau Wiro Balung alias Sapari dari Kelurahan Kawu, Kec. Kedunggalar, Kab. Ngawi. sangat berjasa dalam perkembangan Musium Trinil, karena gagasan beliu mengumpulkan serta melestarikan fosil-fosil yang sering dijumpai ditepian Bengawan Solo ketika ia mandi atau mencangul diladang, ditepi bengawam solo. Disamping itu sebagai Putra Daerah yaitu Bapak Wirodhiharjo semakin rajin mengumpulkan fosil bila setiap hujan lebat atau Bengawan Solo surut banjir, banyak ditemukan fosil terendam dan keluar bersama longsoran tersebut. Selain mengumpulkan sendiri Bapak Wirodhiharjo sering mendapat laporan dari penduduk sekitar Trinil bahwa mereka menemukan fosil. Fosil itu diambil dan yang menemukan diberi imbalan berupa beras atau rokok pada waktu itu penduduk sudah merasa senang.

B. MATESIH
a. Situ Matesih
Situs Matesih merupakan sutus dari kebudayaan megalithikum dimana masa itu perkembangan teknilogi sudah cukup maju. Dalam perkembanganya, akal pikir manusia semakin maju, maka peralatan-peralatan kehidupan yang dibuatnya pun bertambah bagus. Manusia tidak saja membelah batu yang dapat dipergunakan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi mereka sudah mulai mengasahnya. Batu-batu yang menjadi alat hidupnya mulai diasah atau diumpam walaupun belum sempurna.
Situs Matesih yang kami tangkap obyeknya berupa Batu yang biasanya disebut Watu Kandang dimana batu itu tertancap kedalam tanah yang cukup dalam. Matesi berada di dukuh Ngasinan Lor, Ds. Karang Bangun, Kec. Matesih, Kab. Karang Anyar. Luas daerah situ ± 500 m2 yang menyebar, di daerah itu. batu besar yang tertancap ditanah membentuk semacam susunan yang menyerupai kuburan, meja batu, kursi batu, dll
Orientasi Watu Kandang ini ke arah Barat dan Timur, dimana sebelah timur berhadapan dengan Gunung Lawu, Bangun,dan Ganoman. Maka dari itu bisa disimpulkan batu-batu ini sebagai tempat pemujaan kapada alam semesta terutama menyembah gunung-gunung tersebut. Hal ini menunjukan pada masa itu, orang sudah pempunyai pandangan tertentu terhadap Roh atau Dewa. Mereka mulai mempunyai pandangan hidup yang tidak berhenti setelah orang itu meninggal. Orang yang meninggal dianggap pergi kesuatu tempat yang lebih baik, dan orang yang sudah meninggal masih dapat dihubungi pada orang yang masih hidup didunia ini begitu sebaliknya. Bahkan seseorang itu dianggap orang yang panting berpengaruh, maka selalu diusahakan agar selalu ada hubungan untuk dimintai nasehat atau perlindungan bila ada kesulitan terhadap kehidupan didunia. Hal ini bisa dilahat terhadap bentuk Watu Kandang yang menyerupai Kubur Batu dan Menhir. Inti kepercayaan itu semua terhadap roh nenek moyang semakin berkembang dari zaman ke zaman, dan secara umum dilakukan oleh setiap masyarakat di dunia.
Dan apabila dilihat dari orientasi kebarat, Watu Kandang ini sebagai tempat perabotan peralatan karena berhadapan dengan sungai kecil. Tetapi dalam konsep lain situs matesih juga diasumsikan bahwa keberadanya merupakan hasil dari letusan gunung dan langsoran gunung pada waktu itu, karena kurangnya sumber data penelitian yang mendasarinya, konsep itu kurang mendukung dan kurang dipakai.
b. Bentuk Dari Watu Kandang
1) Punden Berundak dimana Batu Kadang ini berdiri condong sehingga seperti punden berundak yang biasanya disembah sebagai nenek moyang mereka.
2) Menhir dimana bentuk dari salah satu dari Watu Kandang yang besar dan berdiri tegak seperti tugu, maka bisa diasumsikan bahwa Watu Kandang bisa jadi sebagai Tugu yang menurut mereka suci, dan sebagai tempat pemujaan roh-roh nenek moyong.
3) Dolmen dimana Watu Kandang itu membentuk seperti meja di tengah-tengah Watu Kandang yang lainya, maka bisa diperkirakan sebagai tempat meletakkan sesaji kepada roh nenek moyangnya.
4) Lumbung Batu yang mana Watu Kandang berbentuk besar dan melebar, ditengahnya berbentuk cukung dan dalam. Maka bisa disimpulkan salah sutu Wutu Kandang Juga sebagai tempat pengupasan kulit padi.
5) Gerabah dimana ditemukan berbagai manik-manik yang terbuat dari tanah liat disekitar Watu Kandang.
6) Manik juga ditemukan manik-manik kecil yang berbentuk Heksagonal, Tetragonal, Silinder, Cornder.
7) Kubur Batu yaitu kuburan atau tempat letak jenazah karena bentuk Watu Kandang yang membentuk persegi empat dengan ukuran batu dan jarak batu sama dan teratur membentuk sebagai tempat jenazah.

C. MUSEUM SANGIRAN
1. Stratigrafi Tanah
o Formasi Kalibeng
Formasi Kalibeng adalah lapisan tanah yang paling tua di Sangiran, berumur 3.000.000-1.800.000 tahun yang lalu. Formasi tanah ini hanya tersingkap dibagian tengah Sangiran Dome, yaitu pada Kali Puren yang merupakan cabang dari kali Cemoro.
Formasi kalibeng dan terdiri dari empat lapisan.
a. Lapisan terbawah ketebalan mencapai 107 meter merupakan endapan laut dalam, berupa lempung abu-abu kebiruan dan lempung lanau dengan kandungan moluska laut.
b. Lapisan kedua ketebalan 4-7 meter merupakan endapan laut dangkal berupa pasir lanau dengan kandungan fosil moluska jenis turitella dan foraminifera.
c. Lapisan ketiga berupa endapan batu gamping balanus dengan ketebalan 1-1,25 meter.
d. Lapisan keempat berupa endapan lempung dan lanau hasil sedimentasi air payau dengan kandungan moluska jenis corbicula
o Formasi Pucangan
Formasi Pucangan berumur 1.800.000 – 800.000 tahun yang lalu. Formasi ini terbagi dua yaitu:
a. Formasi Pucangan Bawah
Ketebalannya 0,7 – 50 meter berupa endapan lahar dingin atau reksi vulkanik yang terbawa aliran sungai, dan mengendapakan moluska air tawar di bagian bawah dan diatome (ganggang kersik) di bagian atas.
b. Formasi Pucangan Atas
Ketebalannya mencapai 100 meter berupa lapisan napal dan lempung yang merupakan pengendapan rawa-rawa. Pada formasi ini terdapat sisipan endapan moluska marin yang menunjukkan bahwa pada waktu itu pernah terjadi transgresi laut.
Formasi Pucangan banyak mengandung fosil-fosil binatang vertebrata seperti Gajah (Stegodon Trigonocphalus), Banteng (Bibos Palaeosondaicus), Kerbau (Bubalus Palaeokarabau), Rusa (Cervus Sp), Kuda Nil (Hippotamus), dan lain-lain. Bahkan pada lapisan Formasi Pucangan yang paling atas mulai banyak ditemukan fosil-fosil manusi purba.
o Formasi Kabuh (800.000 – 250.00 tahun yang lalu)
Empat lapisan yaitu Formasi Kabuh merupakan lapisan stratigrafi yang paling banyak menghasilkan fosil mamalia, fosil manusia purba, dan alat-alat bantu. Kandungan batuan formasi ini umumnya terdiri dari pasir, lanau, pasir besi, dan gravel sungai air tawar. Formasi Kabuh terbgai menjadi
a.. Lapisan Formasi Kabuh Terbawah
Mengandung lapisan yang dikenal dengan istilah grenzbank artinya lapisan pembatas. Lapisan ini merupakan batas antara Formasi Pucangan dengan Formasi Kabuh. Ketebalan lapisan ini antara 0,1 samapi 46,3 meter. Kandungan lapisan ini antara lain berupa batu gamping calcareous dan batu pasir konglomerat. Temuan lapisan ini atara lain ikan hiu, kura-kura, buaya, bintaang mamalia darat, dan fosil manusia purba. Lapisan ini juga mengandung temuan alat batu tertua ciptaan homo erectus yang pernah hidup di Sangiran.

b. Formasi Kabuh Bawah
Ketebalan lapisannya sekitar 3,5 – 17 meter. Lapisan ini banyak menghasilkan fosil mamalia dan fosil manusia purba.
c. Formasi Kabuh Tengah
Ketebalan lapisannya sekitar 5 – 20 meter dan banyak menghasilakan fosil-fosil manusi purba.
d. Formasi Kabuh Atas
Ketebalan lapisannya sekitar 3 – 16 meter. Kandungan batuannya hampir sama dengan Kabuh Bawah dan Kabuh Tengah, namun tetapi saat ini pada lapisan Kabuh Atas ini belum pernah ditemukan fosil manusia purba.
o Formasi Notopuro
Formasi Notopuro secara Tidak selaras terletak di atas Formasi kabuh, dan tersebar di bagian atas perbukitan di sekeliling Kubah Sangiran. Formasi ini mengnadung gravel, pasir, lanau, dan lempung. Juga terdapat sisipan lahar, batu pumisan, dan tufa. Pada Formasi Notopuro ini sangat jarang dijumpai fosil. Ketebalan lapisan mencapai 47 meter dan terbagi menjadi Tiga lapisan yaitu:
a. Formasi Notopuro Bawah
Ketebalannya 3,2 - 28,9 meter
b. Formasi Notopuro Tengah
Ketebalannya maksimal 20 meter
c. Formasi Notopuro Atas
Ketebalannya 25 meter

2. MUSEUM SANGIRAN
Sejarah Museum Sangiran
Sejarah Museum Sangiran bermula dari kegiatan penelitian yang dilakukan oleh Van Koenigswald sekitar tahun 1930-an. Setiap hari Toto Marsono atas perintah Van Koenigswald mengrahkan penduduk Sangiran untuk mencari “Balung Buto” (Bahasa Jawa = Tulang raksasa). Balung buto tersebut adalah fosil yaitu sisa-sisa organisme atau jasad hidup purba yang terawetkan di dalam bumi.



Setelah Van Koenigswald tidak aktif lagi melaksanakan penelitian di Sangiran, kegiatan mngumpulakan fosil masih diteruskan oleh Toto Marsono sehingga jumlah fosil di Pendopo kelurahan semakin melimpah. Dari Pendopo kelurahan krikilan inilah cikal-bakal Museum Sangiran.
Untuk menampung koleksi fosil yang semakin hari bertambah maka pada tahun 1974 Gubernur Jawa Tengah melalui Bupati Sragen membangun museum kecil di Desa Krikilan, Kec Kali Jambe, Kabupaten Sragen di atas tanah seluas 1000 m2. Museum tersebut diberi nama “Museum Plestosen”.
Sementara di Kawasan Cagar Budaya Sangiran sisi selatan pada tahun 1977 dibangun juga sebuah museum di Ds. Dayu. Kec. Gondangrejo, Kab. Karanganyar. Museum ini difungsikan sebagi Basecamp sekaligus tempat untuk menampung hasil penelitian lapangan di wilayah Cagar Budaya Sangiran sisi selatan.
Tahun 1983 pemerintah pusat membangun museum baru yang lebih besar di Ds. Ngampon, Ds. Krikilan, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen. Kompleks Museum ini didirikan di atas tanah seluas 16.675 m2. bangunannya antara lain terdiri dari ruang pameran, ruang pertemuan/seminar, ruang kantor/administrasi, ruang perpustakaan, ruang storage, ruang laboratorium, ruang istirahat/ tempat tinggal penelitian, ruang garasi, dan kamar mandi. Selanjutnya koleksi yang ada di Museum Plestosen Krikilan dan koleksi di Museum Dayu dipindahkan ke museum yang baru ini. Museum ini selain berfungsi untuk memamerkan fosil temuan dari kawasan Sangiran juga berfungsi untuk mengkonservasi temuan yang ada dan sebagai pusat perlindungan dan pelestarian kawasan Sangiran.
Tahun 1998 Dinas Pariwisata Propinsi Jawa Tengah melengkapi Kompleks Museum Sangiran dengan Bangunan Audio Visual di sisi Tiur museum. Dan tahun 2004 Bupati Sragen mengubah interior ruang kantor dan ruang pertemuan menjadi ruang pameran tambahan.






Tahun 2003 Pemerintah Pusat merencanakan membuat museum yang lebih representatif menggantikan museum yang ada secara bertahap. Awal tahun 2004 ini telah selesai didirikan bangunan perkantoran tiga lantai terdiri ruang basemen untuk gudang, lantai I untuk laboratorium, dan lantai II untuk perkantoran. Program selanjutnya adalah memuat ruang audio visual, ruang transit untuk penerimaan pengunjung, ruang pameran bawah tanah, ruang pertemuan, perpustakaan, taman prbakala, dan lain-lain.

3. KOLEKSI MUSEUM SANGIRAN
Koleksi yang ada di Museum Situs Manusia Purba Sangiran saat ini, semua berasal dari sekitar Situs Sangiran. Saat ini jumlah koleksi seluruhnya ± 13.808 buah. Koleksi tersebut akan selalu bertambah karena setiap musim hujan, bumi Sangiran selalu mengalami erosi yang sering menyingkapkan temuan fosil dari dalam tanah.
Koleksi yang ada di Museum Sangiran antara lain berupa fosil manusia, fosil hewan, fosil tumbuhan, batu-batuan, sedimen tanah, dan juga peralatan batu yang dulu pernah dibuat dan digunakan oleh manusia purba yang pernah bermukim di Sangiran.
Koleksi-koleksi tersebut seagian besar masih disimpan di gudang dan sebagian lagi di pajang di ruang pameran. Ruang Pameran saat ini ada 3 ruang. Ruang Utama berisi 15 Vitrin ditambah diorama, Ruang Pameran Tambahan 1 berisi vutrin, dan Ruang Pameran Tambahan 2 berisi vitrin.

1. Ruang Pameran Utama
• Vitrin 1 FOSIL MOLUSKA
Moluska termasuk filum invertebrata. Terbagi menjadi 7 klas dan lebih dari 100.000 spesies. Pada Vitrin ini dipamerkan contoh-contoh moluska Klas Pelecipoda (kerang dengan dua cangkang) dan Klas Gastropoda (kerang bercangkang spiral), yang ditemukan pada Formasi Klaibeng dan Formasi Pucangan.
A. Klas Pelecypoda
1. Venericardia
2. Arca
3. Pecten
4. Tenina
5. Ostrea
6. Steinkern
7. Fragmen Tridaona
8. Amonia
9. Vermetus B. B. Klas Gastropoda
1. Orthaulax
2. Olivia
3. Turbo
4. Eupleura
5. Strombus
6. Turritella
7. Conus
8. Urasalpinx
9. Buccina
10. STulangnkerna

• Vitrin 2 BINATANG AIR
Vitrin 2 berisi fosil tengkorak buaya, fosil kura-kura, fosil ikan, dan fosil kepiting. Temuan fosil Ikan Hiu menunjukkan bahwa kawasan Sangiran pernah digenangi oleh air laut. Lingkungan ini kemudian berubah menjadi danau dan rawa-rawa dengan bukti temuan fosil buaya dan kura-kura, dan kepiting.
11. Tengkorak Buaya (Crocodilus Sp.)
Tanggal Penemuan : 17 Desember 1994
Lokasi Penemuan : Dukuh Blimbing, Ds. Ngebung, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan
12. Kura-Kura (Chelonia Sp.)
Tanggal Penemuan : 1 Pebruari 1990
Lokasi Penemuan : Dukuh Pablengan, Ds.Krikilan, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan
13. Rahang dan Sirip Belakang Ikan
Tanggal Penemuan : 20 Nopember 1975
Lokasi Penemuan : Ds. Bukuran, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan

14. Gigi Ikan Hiu
Tanggal Penemuan : 6 April 1977
Lokasi Penemuan : Ds.Bukuran, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan
15. Ruas Tulang Belakang Ikan
Tanggal Penemuan : 20 November 1975
Lokasi Penemuan : Ds. Bukuran, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan
6. Sirip Ikan Bagian Depan
Tanggal Penemuan : 4 Januari 1991
Lokasi Penemuan : Desa Dayu, Kec. Gondangrejo, Kab. Karanganyar
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan
16. Kepiting
Tanggal Penemuan : 6 April 1970
Lokasi Penemuan : Ds.Bukuran, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan

• Vitrin 3 FOSIL KAYU
Selain sisa-sisa manusia dan binatang purba, di kawasan Cagar Budaya Sangiran ditemukan pula sisa-sisa batang pohon yang telah menjadi fosil. Pada vitrin ini dipamerkan Fosil Batang Pohon dari Dukuh Jambu, Desa Dayu, Kec. Gondangrejo, Kab. Karnganyar, yang ditemukan tahun 1955 dan Fosil Batang Pohon dari Desa Krikilan, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen, yang ditemukan tahun 1977. keduanya dari Formasi Pucangan.

• Vitrin 4 KUDA NIL (Hippopotamus Sp)
Kuda Nil adalah binatang darat yang hidup di danau atau rawa-rawa dan dapat menyelam di dalam air selama 5 menit dengan cara menutup lubang hidung dan matanya. Di daerah Sangiran binatang ini ditemukan pada formasi Pucangan dan Kabuh.


1. Rahang Bawah (Mandibula)
Tanggal Penemuan : 20 Februari 1994
Lokasi Penemuan : Lereng Tebing di Sebelah Barat Dukuh
Grogolan, Ds. Bukuran, Kali Jambe, Sragen
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan
2. Rahang Atas (Maxilla)
Tanggal Penemuan : 25 April 1994
Lokasi Penemuan : Dukuh Pablengan, Desa Krikilan, Kec. Kali Jambe, Kab Sragen
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan
3. Tulang Kering (Tulangbia)
Tanggal Penemuan : 4 Januari 1993
Lokasi Penemuan : Dukuh Bubak, Desa Ngebung, Kec.Klaijambe, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan Atas
4. Tulang Kaki Depan Bagian Atas (Humerus)
Tanggal Penemuan : 28 Desember 1993
Lokasi Penemuan : Desa Krikilan, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi : Formasi Pucangan Atas
• Vitrin 5 COPY FOSIL TENGKORAK MANUSIA
Vitrin ini berisi copy tengkorak manusia purba dari berbagai situs prasejarah dunia yang secara berurutan menggambarkan bukti-bukti evolusi manusia purba.
1) Australopithecus Africanus (copy)
Tanggal Penemuan : Tahun 1937
Lokasi Penemuan : Di Sterfonteine, Afrika Selatan
2) Umur/Stratigrafi : Diperkirakan 2,5 juta tahun
3) Pithecanthropus Modjokertensis (copy)
Tanggal Penemuan : Tahun 1936
4) Lokasi Penemuan : Di Perning, Mojokerto, Jawa Tiur
Umur/Stratigrafi : Diperkirakan 1,9 juta tahun (Individu usia anak anak 6 tahun)

5) Tengkorak Pithecanthropus erectus II (copy)
Tanggal Penemuan : Tahun 1937
Lokasi Penemuan : Dukuh Bapang, Desa Bukuran, Kec. Klaijambe, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi :
6) Tengkorak Pithecanthropus VIII (Sangiran 17)
Fosil tengkorak Homo Erectus terlengkap hingga saat ini yang pernah ditemukan di Indonesia. Terdiri dari Tempurung, Kepala, Bagian Muka, dan Rahang Atas dengan Gigi Geraham (premolar 4), Taring (canine) kiri, serta Geraham (molar 1-3) kanan.
Fosil ditemukan di sebelah selatan Kali Pucung, Ds. Dayu, kec. Gondangrejo, Kab. Karanganyar. Secara geologis fosil ini diperkirakan berumur 700.000 tahun yang lalu.
1. Tengkorak Pithecanthropus Soloensis (copy)
Tanggal Penemuan : Tahun 1932
Lokasi Penemuan : Di Ngandong, Kab. Blora, Jawa Tengah
Umur/Stratigrafi : Diperkirakan 400.000 tahun
2. Homo Neandertha Eropa (copy)
3. Homo Neanderthal Asia (copy)
4. Homo Sapiens (copy)
Lokasi Penemuan : Dari Dukuh Ngrejeng, Ds. Somomoro dukuh, Kec. Plupuh, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi : Diperkirakan hidup sekitar 40.000 tahun yang lalu.

• Vitrin 6 ALAT-ALAT BATU
Manusia purba yang hidup di Sangiran menggunakan batu sebagai peralatan untuk temuan alat batu di Situs Sangiran membuktikan tentang adanya adaptasi manusia purba terhadap lingkungannya. Ditemukan “Bakalan” kapak batu di daerah Sangiran, membuktikan bahwa alat-alat batu tersebut Tidak didatangkan dari tempat lain. Adapun alat-alat batu yang ditemukan di Sangiran anatar lain: Serpih dan Bilah, Serut dan Gurdi, Bakalan Kapak Batu, Beliung Persegi, Kapak Perimbas, Batu Inti, dan Bola Batu.
a. Serpih dan Bilah. Alat yang dibuat denagn memecah batu menjadi serpihan. Serpihan panjang disebut bilah, digunakan seperti pisau, untuk memotong ataupun menguliti binatang buruan.
b. Serut adalah alat serpih untuk menyerut, Gurdi adalah alat batu untuk melobangi.
c. Beliung Persegi merupakan alat batu yang sudah diperhalus dan dipergunakan sebagai alat pertania di zaman Neolitikkhum.
d. Bakal Kapak batu yaitu bahan yang disiapkan untuk membuat kapak batu.
e. Batu inti, merupakan bahan baku untuk membuat alat-alat batu separti Serpih dan Bilah. Bahan baku yang biasa digunakan antara lain Batuan Tufa Kersikan, Batuan Gamping Kersikan, Kwarsa, dll.
f. Bola batu, yaitu batuan yang mengalami pembulatan karena alam. Bola Batu tersebut diperkirakan digunakan sebagai alat lempar.

• Vitrin 7 CONTOH BATUAN SITUS SANGIRAN
Vitrin ini memamerkan beberapa jenis contoh batu dan batuan yang ditemukan di kawasan Cagar Budaya Sangiran yang dapat dijadikan sebagai indikasi terhadap aam dan lingkungan Sangiran, yang secara geologis dapat memberikan informasi kondisi alam purba masa itu.
a. Batu Rijang, banyak ditemukan di sekitar tulang-tulang trianggulasi di Ds. Ngebung, Kec Kali Jambe, Kab. Sragen, batu ini banyak digunakan sebagai bahan pembuat alat serpih.
b. Batu Meteor. Ditemukan antar lain di desa Krikilan, Rejosari, dan lain-lain.
c. Batu Kalsedon. Banyak ditemukan di sekitar tulang-tulang patok trianggulasi di Desa Ngebung, Kec. Klaijambe, Kab. Sragen. Batu ini banyak digunakan oleh sebagian bahan pembuat alat.
d. Batauan Konkresi. Ditemukan dari Dsa Pablengan.
e. Batu Cetakan (Steinkem). Ditemukan di Dukuh Pondok, Desa Krikilan, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen. Jenis bataun ini terjadi karean masuknya material batuan ke dalam cangkang kemudian cangkang tersebut terawetkan, setelah material berubah menjadi fosil, maka cangkangnya aslinya hancur.
f. Batu Koral. Ditemuakn pada endapan/formasi Kalibeng, kala Meosin. Jenis batuan ini ditemukan di Dukuh Sangiran, Desa Krikilan, kec. Kali Jambe, Kab. Sragen.
g. Batu Diatome. Diatome adalah plankton laut yang berlapis-lapis yang telah mengeing dan mengeras. Jenis bataun ini merupakan salah satu ciri dari endapan dari Formasi Pucangan pada kala. Pleostosen Bawah. Sampel batuan diambil dari Dukuh Pablengan, Desa Krikilan, Kec. Klaijambe, Kab. Sragen.
h. Batu Gamping Moluska. Merupakan endapan molusa yang tersementasi oleh batu kapur temuan dari situs Sangiran.
i. Batu Gamping Foraminifera. Temuan dari Dukuh Ngempon, Desa Krikilan, Kec. Klaijambe, Kab. Sragen. Ditemukan pada endapan/formasi Kalibeng.
j. Endapan Mud Vulcano. Ditemukan di Desa Krikilan, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen. Mud Vulcano adalah bataun erupsi dari dalam bumi yang muncul ke permukaan bumi sambil membawa zat-zat dari dalam bumi. Dari penelitian diketahui bahwa material mud vulcano di Situs Snagiran beasal dari Zaman Tersier sekitar 65 s/d 5 juta tahun yang lalu.

• Vitrin 8 TENGKORAK KERBAU (Bubalus Palaeokerabau)
Tanggal Penemuan : 20 November 1992
Lokasi Penemuan : Dari Dukuh Tanjung, Ds. Dayu, Kec. Gondangrejo, Kab. Karanganyar.
Umur/Stratigrafi : Formasi kabuh

• Vitrin 9 GAJAH PURBA
Gajah Purba yang pernah hidup di daerah Cagar Budaya Sangiran antara lain jenis Mastodon, Stegodon, dan Elephas. Spesies Stegodon Trigonocephalus merupaakn jenis gajah purba yang paling banyak ditemukan di Situs Sangiran. Fosil binatang ini banyak ditemukan pada formasi Pucangan Atas dan Kabuh dan hidup antara 1.200.000 - 500.000 tahun yang lalu.
No. Nama Koleksi Tanggal Penemuan Asal Temuan
1. Rahang Atas (Maxilla) Gajah Mastodon Sp 5 Januari 1992 Formasi Kabuh, Situs Sangiran
2. Tulang Rusuk (costa) Gajah Stegodon Trigonochepalus 3 Desember 1991 Formasi Pucangan Atas di Dukuh Bukuran, Kali Jambe, Sragen
3. Gading Gajah Stegodon Trigonocepalus 24 Agustus 1980 Formasi Kabuh Bawah, di Dukuh Blimbing, Ds. Cangkol, Kec. Plupuh, Kab. Sragen
4. Sepasang Gading Gajah Stegodon Trigonochepalus 7 Juni 1984 Formasi Kabuh di Dukuh Grogolan
5. Tulang Panggul (Pelvis) Gajah Stegodon Trigonochepalus 20 April 1992 Formasi Kabuh, Dukuh Tanjung, Ds. Dayu, Kec. Gondangrejo, Kab. Karang Anyar
6. Ruas Tulang Jari (Phalanx) Gajah Stegodon Trigonochepalus 28 Oktober 1971 Formasi Kabuh, Situs Sangiran
7. Ruas Tulang belakang (vertebrae) Gajah Stegodon Trigonochepalus 15 Dsember 1975 Formasi Kabuh, Situs Sangiran
8. Ruas Tulang Leher (vertebrae) Gajah Stegodon Trigonocephalus 20 Desember 1975 Formasi Kabuh Bawah, Situs Sangiran
9. Gigi Geraham Bawah Gajah 8 November 1975 Formasi Kabuh Bawah, Situs Sangiran
10. Gigi Gajah (Elepnas Namadicus) 12 Desember 1975 Formasi Kabuh Bawah, Situs Sangira


• Vitrin 10 FOSIL BOVIDAE
Bovidae adalah kelompok binatang bertanduk seperti Kerbau, Banteng, dan lain-lain. Fosil binatang ini banyak ditemukan pada Formasi Pucangan Atas dan Foramsi Kabuh.


No. Nama Koleksi Tanggal Temuan Asal Temuan
1. Tulang Belakang (Vertebrae) 26 Mei 1977 Formasi Kabuh, Sangiran
2. Rahang Bawah (Mandibula) 10 Desember 1977 Formasi Kabuh Bawah, di Dukuh Kricikan, Ds. Rejosari, Kec. Gondangrejo, Karang Anyar.
3. Tulang Rusuk (Costa) 17 Mei 1977 Formasi Kabuh Bawah, Sangiran
4. Tulang Paha (Femur) 1 Pebruari 1994 Formasi Kabuh di Dukuh Kriilan, Kec. Kali Jambe, Sragen
5. Tulang Kering 9 Tulangbia) 10 Mei 1977 Formasi Kabuh di Dukuh Kriilan, Kec. Kali Jambe, Sragen
6. Tulang Tapak Kaki (Metacarpal) 3 November 1994 Formasi Kabuh di Dukuh Sendang, Ds. Bukuran, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
7. Tulang Kaki Depan Atas (Humerus) 28 Januari 1995 Formasi Kabuh, di Dukuh Sendang Ds. Bukuran, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
8. Tengkorak (cranium) 1975 Formasi Kabuh, di Ds. Krikilan, Kali Jambe, Sragen


• Vitrin 11 STEGODON TRIGONOCEPHALUS
a. Tulang Paha Gajah
Tanggal Penemuan : 4 Februari 1989
Lokasi Penemuan : Dari Desa Ngebung, Kec. Kali Jamb, Kab. Sragen
Umur/Stratigrafi : Pada Formasi Pucangan Atas
b. Tulang Hasta (ulna) Stegodon Trigonocephalus
Tanggal Penemuan : 23 November 1975
Lokasi Penemuan : Dari kawasan Cagar Budaya Sangiran
Umur/Stratigrafi : Pada Formasi Kabuh Bawah

• Vitrin 12 FOSIL RUSA (Cervus Sp.) dan DOMBA
Vitrin ini berisi fosil rusa dan domba yang pernah hidup pada kala Pleostosin Tengah dan endapan pada Formasi Kabuh. Koleksi vitrin antara lain:
a. Tanduk Rusa jenis Cervus Hippelaphus
b. Tanduk dari jenis Cervus Lydekteri
c. Tengkorak Rusa (Cranium)
d. Rahang Bawah Carvus Hippelaphus (Mandibula)
e. Rahang Atas Cervus Sp
f. Tulang Pinggul (Pelvis) Cervus Sp
g. Duboisia Santeng
h. Rahang Bawah Domba (Mandibula)
i. Tulang Paha (Femur) Domba
j. Tulang Tapak Kaki Belakang Bawah (Metatarsus) Domba
k. Tulang Pengumpil (Radius)
l. Ruas Tulang Jari (Phalanx) Domba
m. Ruas Pergelangan Kaki Belakang Domba

• Vitrin 13 FOSIL BABI, HARIMAU, DAN BADAK
No Nama Koleksi Penemuan Dan Tanggal Penemuan Asal Temuan
1 Rahang Atas Babi Sus
(Brachinathus) Mitro, 14 Maret 1997 Formasih Kabuh di
Dk.Sangiran, Ds. Krikil
Kec. Kaliambe, Kab. Sragen
2 Rahang Bawa (Mandibula) Babi
Sus Terhaati Tahun 1976 Formasi Kabuh Di
Situs Sangiran
3 Tengkorak Harimau
(Cranium Fellis Paleojavanica) Ngadino, 24 Desember 1993 Formasih Kabuh di Dk.Wonolelo, Ds. Ngembung Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
4 Ti Paha Harimau (Femur) 12 Juni 1993 Formasih Kabuh di Dk.Wonoelo, Ds. Brangkal Kec. Gemolong, Kab. Sragen
5 Taring Harimau (Canine) Ngandino, 25 April 1991 Formasih Kabuh di Dk.Wonolelo, Ds. Ngembung Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
6 Tengkorak Badak
(Rhinoceros Sondaicus) Harto, 24 April 1993 Formasi Kabuh Di Dk. Sangiran, Kec. Kali Jambe, Kab. Sragen
7 Rahang Bawah Badak Mintorejo, 7 Oktober 1993 Formasi Kabuh di Dk. Grogolan Krajan, Ds. Manjarejo, Plupuh, Sragen.
8 TI. Belikat Badak Danusari, 6 Juli 1994 Formasi Kabuh di Dk. Kebonaagung, Kec. Tanon. Kab. Sragen


• Vitrin 14 RAHANG ATAS ELEPHANS NAMADICUS
Tanggal : 24 April 1980
Penemuan :
Nama Penemu : Atmo
Lokasi : Dari Dukuh Ngejeng, Desa Somomoro
Penemuan di : dukuh, Kec. Plupuh, Kab. Sragen
Umur/ Stretigrafi : Pada Lapisan grenzbank (antara formasi pucangan dan kabuh)

• Vitrin 15 RAHANG GAJAH
Vitrin ini berasal dari Rahang atas Stegodon Trinocephalus dan Rahang Bawah Elephentoides. Keduanya jenis gajah purba yang pernah hidup di Sangiran.
No Nama Koleksi Penemu dan Tgl Penemuan Asal Temuan
1 Rahang Atas gajah Stegodon Trigonocephalus Atmo,24 April 1980 Lapisan Grezbank di Dk. Ngrejek, Ds. Sommoro- dukuh, Kec.Plupuh, Sragen
2 Rahang Bawah ( Mandibula) Gajah Elephantoides Supardi, 3 Desember 1991 Formasi Pucangan Atas di Ds. Bukuran, Kali Jambe, Sragen


BAB IV
PENUTUP

• Kesimpulan
Pada dasarnya sebuah penelitian harus berdasar pada suatu teori- teori penelitian yang dilakukan, sehingga penelitian tersebut mepunyai konsep dan rancangan terhadap obyek yang diteliti. Para ilmuan dengan konsep teorinya tentang perkembangan-perkembangan manusia purba, banyak mendukung terhadap penelitian. Tetapi disisi lain teori-teori tersebut juga mendapat kencaman dari para ilmuan. Maka dari itu untuk kebenaran teori tersebut perlu penelitian lebih lanjut. Teori yang diungkapkan Darwin tentang asal-usul manusia bahwa manusia berasal dari seokor kera yang berevolusi, hal ini menjadi perdebatan dikalangan para ilmuan. E. Debois seorang warga Belanda mencoba mencari kebenaran teori Darwin, dengan penelitianya yang dilakukan, ia bertujuan menjawab pertanyaan (The Missink Link) siapa nenek monyang manusia yang hilang dan telah berevolisi. Dengan latar belakang itulah, penelitian di lakukan di Indonesia karena dianggap cocok terhadap perkembangan manusia yang berevolusi setelah hilangnya bulu manusia purba. Karena tidak mungkin bahwa manusia purba hidup di empat iklim setelah hilangnya bulu manusia, tetapi di iklim tropislah mereka berkembang yaitu di Indonesia.

• Saran
Mengingat pentingnya penelitian yang dipelopori bangsa lain terhadap penelitian yang dilakukan di kawasan Indonesia, Sebagai putra bangsa kita harus tanggap terhadap potensi alam kita, yang menyimpan berbagai pengetahuan yang belum bisa diungkapkan secara luas, khususnya Perkembangan Manusia Purba. Sebagain besar penemuan sumber-sumber data/ situs Manusia Purba yang banyak ditemukan di Indonesia, karena itu perlu tindak lanjut pemerintah dan masyarakat sekitar agar dapat dikembangkan potensinya sebagai sumber penelitian pengetahun akan perkembangan Manusia Purba. Disamping tindakan pemerintah yang lebih optimal, peran masyarakat perlu ikut, agar sumber-sumber data bisa menjadi sumber data budaya kita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar